ekonomi

Industri Tekstil Tumbuh 5,6%, Presiden Prabowo Perintahkan Atasi Hambatan Hulu-Hilir

Rabu, 23 September 2026 | 17:35 WIB
Menko Perekonomian airlangga Sucipto.Foto/Ist

Kompas86news.com

 

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto terus berupaya memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Sebab, sektor ini tak hanya penting dalam mendorong perekonomian, tetapi juga menyerap tenaga kerja.

Baca Juga: Di Tengah Proses Hukum KPK, Menteri Nusron Jamin Pelayanan Pertanahan Tidak Terganggu

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri TPT sangat penting karena mencakup sektor dari hulu hingga hilir. Karena itu, sektor tersebut perlu semakin diperkuat demi menjaga keberlanjutan industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Airlangga merinci, saat ini sumbangan industri TPT terhadap perekonomian sebesar 0,97 persen. Sementara itu, tenaga kerjanya tercatat sekitar 4 juta orang dan nilai ekspornya mencapai USD 12 miliar.

"Kemudian ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu 5,6 persen," ujar Airlangga dalam keterangannya di Istana Negara, Selasa (22/9).

Oleh sebab itu, Presiden Prabowo meminta agar sektor TPT diperkuat. Caranya dengan mengatasi berbagai permasalahan yang selama ini menghambat kinerjanya.

"Kemudian khusus persoalan yang dihadapi oleh tekstil, produk tekstil itu salah satunya adalah tentunya harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Karena di hulu kemarin ada beberapa tanggapan dari industri garmen terkait dengan biaya masuk antidumping," katanya.

Menurutnya, apabila permasalahan ini bisa diselesaikan, industri TPT bisa memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

"Kita melihat bahwa utilisasi daripada pabrik tekstil itu masih sekitar 75 persen, sehingga masih ada ruang untuk melakukan ekspansi," jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga akan membedakan industri TPT berdasarkan sektornya, seperti tekstil, pakaian, kulit, hingga alas kaki. Tujuannya untuk lebih mudah memetakan sektor mana yang paling membutuhkan penanganan dari pemerintah.

Misalnya, berdasarkan catatan pemerintah, neraca dagang tekstil bahan baku masih defisit. Sebab, impornya sebesar USD 8,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspornya yang hanya USD 3,1 miliar.

Sementara itu, neraca dagang tekstil pakaian tercatat surplus. Ekspornya sebesar USD 8,7 miliar, jauh di atas impor yang sebesar USD 690 juta.

Halaman:

Tags

Terkini