Di tengah derasnya arus informasi digital, Falah memilih tetap menjadikan tulisan sebagai alat untuk menyampaikan fakta dan membuka ruang diskusi publik.
“Bagi saya, pena bukan sekadar alat untuk menulis. Pena adalah cara untuk merekam fakta, menyampaikan suara masyarakat, dan mengingatkan ketika ada persoalan yang perlu mendapat perhatian publik,” ujar Falah.
Ia menegaskan, menjadi wartawan bukan berarti harus selalu berseberangan dengan pemerintah maupun pihak tertentu.
Namun, ketika terdapat kebijakan atau persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat, pers memiliki ruang untuk bertanya, mengkritisi, sekaligus memberikan informasi secara berimbang.
“Kritik bukan berarti membenci. Kritik adalah bagian dari kontrol sosial. Yang terpenting, tulisan harus berpijak pada fakta dan tetap menjaga etika profesi,” katanya.
Dari Cirebon Timur, Falah terus menulis. Dengan segala dinamika dunia pers, ia memilih mempertahankan satu hal yang dianggapnya penting: tetap berkarya, tetap kritis, dan tetap menjadikan tulisan sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
(Dadang)